Patriarchal Proclamation For Easter 2021

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on whatsapp

English

Prot. No. 289

+ B A R T H O L O M E W

BY GOD’S MERCY ARCHBISHOP OF CONSTANTINOPLE-NEW ROME AND ECUMENICAL PATRIARCH

TO THE PLENITUDE OF THE CHURCH: MAY THE GRACE, PEACE AND MERCY OF CHRIST RISEN IN GLORY BE WITH YOU ALL * * *

Having completed the soul-profiting Lent and venerated the Lord’s Passion and Cross, behold today we are rendered participants of His glorious Resurrection, radiant through the feast and crying out with ineffable joy the world-saving announcement: “Christ is Risen!” All that we believe, all that we love, and all that we hope as Orthodox Christians is associated with Pascha, from which everything derives its vividness, through which everything is interpreted, and in which everything acquires its true meaning. The Resurrection of Christ is the response of the Divine love to the anguish and expectation of man, but also to the “yearning” of creation that groans with us. In the Resurrection the meaning of “let us make man in our image and likeness” and of “God saw all that He had made, and behold it was very good” has been revealed. Christ is “our Pascha,” “the resurrection of all.” If the fall comprised the suspension of our journey toward the “divine likeness,” in the risen Christ the way toward deification through grace is once again opened for “the beloved of God.”

The “great miracle” is performed, which heals the “great wound,” mankind. In the emblematic icon of the Resurrection at the Chora Monastery, we behold the Lord of glory, who descended “to the depths of Hades” and conquered the power of death, to arise as life-giver from the tomb, raising with Himself the forefathers of humankind and in them the entire human race from beginning to end, as our liberator from the slavery of the enemy. In the Resurrection the life in Christ is revealed as liberation and freedom. For “Christ has set us free … for freedom.” The content, the “ethos” of such freedom, which must be experienced here in a manner befitting to Christ, before it is perfected in the heavenly kingdom, is love, the experiential quintessence of the “new creation.” “For you were called to freedom, brethren; only do not use your freedom as an opportunity for the flesh, but through love be servants of one another.” The freedom of a believer, grounded on the Cross and Resurrection of the Savior, is a journey upward and toward our neighbor; it is “faith working through love.” It is an exodus from the “Egypt of slavery” and of the diverse alienations, the Christ-given transcendence of an introverted and shriveled existence, the hope of eternity that renders man human. As we celebrate Pascha, we confess in Church that the Kingdom of God “has been already inaugurated, but not yet fulfilled.” In the light of the Resurrection, earthly things assume new significance, because they are already transformed and transfigured. Nothing is simply “given.” Everything lies in motion toward eschatological perfection.

This “unrestrained rush” toward the Kingdom, which is especially lived out in the eucharistic assembly, safeguards God’s people, on the one hand from indifference toward history and the presence of evil in it, and on the other hand from forgetfulness of the Lord’s words, that “my kingdom is not of this world,” which marks the difference between the “already” and the “not yet” of the coming of the Kingdom, in accordance with the most theological expression that “The King has come, the Lord Jesus, and His Kingdom is to come.” The chief characteristic of this God-given freedom of the believer is the unrelenting resurrectional pulse, this freedom’s vigilance and dynamism. Its character as a gift of grace not only does not restrict, but in fact manifests our own consent to this gift, and strengthens our journey and our conduct into this new freedom, which also contains the restoration of our estranged relationship with creation. One who is free in Christ is not trapped in the “earthly absolutes” like “the rest, who do not have hope.”

Our hope is Christ, the existence fulfilled in Christ, the brilliance and resplendence of eternity. The biological boundaries of life do not define its truth. Death is not the end of our existence. “Let none fear death, for the Savior’s death has set us free. He was held prisoner by it and has annihilated it. The one who descended into hell, He made hell captive.” Freedom in Christ is the “other creation” of man, a foretaste and model of the fulfillment and fullness of the Divine Economy in the “now and always” of the last day, when the “blessed of the Father” will live person to person with Christ, “seeing Him and seen by Him, as they enjoy the fruits of the endless delight that comes from Him.” Holy Pascha is not merely a religious feast, albeit the greatest feast for us Orthodox.

Every Divine Liturgy, every prayer and supplication of the faithful, every feast and commemoration of Saints and Martyrs, the honor of sacred icons, the “abundant joy” of Christians (2 Cor. 8.2), every act of sacrificial love and fraternity, the endurance of sorrow, the hope that never disappoints the people of God, is a festival of freedom. All of these radiate the paschal light and exude the fragrance of the Resurrection. In this spirit, then, as we glorify the Savior of the world, who trampled down death by death, we convey to all of you – our most honorable Brothers throughout the Lord’s Dominion and our dearly beloved children of the Mother Church – a festal greeting, as, with one voice and one heart, we joyously bless with you Christ unto the ages.

At the Phanar, Holy Pascha 2021

+ Bartholomew of Constantinople

____________________________________________________________

Bahasa, Indonesia

✠ B A R T H O L O M E U S

OLEH BELAS KASIH ALLAH USKUP AGUNG KONSTANTINOPEL-ROMA BARU DAN PATRIARK EKUMENIKAL

KEPADA PEMILIK GEREJA

KIRANYA RAHMAT, PENGASIHAN DAN DAMAI DARI KRISTUS YANG BANGKIT DALAM KEMULIAAN BESERTAMU SEMUA

Setelah menjalani masa-masa Prapaskah yang memberi faedah bagi jiwa dan menghormati Sengsara dan Salib Tuhan, lihatlah hari ini kita diperkenankan menjadi peserta KebangkitanNya yang mulia, bersinar melalui pesta dan berseru dengan sukacita yang tak terkatakan mendengungkan pewartaan keselamatan dunia: “Kristus telah Bangkit!”

Semua yang kita percayai, semua yang kita cintai, dan semua yang kita harapkan sebagai umat Kristen Orthodox terkait dengan Paskah, yang mana darinya segala sesuatu mendapatkan kejelasannya, melalui yang mana segala sesuatunya ditafsirkan, dan di mana segala sesuatu memperoleh maknanya yang sejati. Kebangkitan Kristus adalah tanggapan kasih Ilahi terhadap penderitaan dan harapan manusia, tetapi juga bagi “kerinduan” ciptaan yang meratap bersama kita. Dalam Kebangkitan, makna dari “marilah kita menciptkan manusia menurut gambar dan rupa kita” dan “Allah melihat semua yang telah Dia ciptakan itu adalah sangat baik,” telah dinyatakan.

Kristus adalah “Paskah kita,” “kebangkitan bagi semua”. Jika kejatuhan merupakan penundaan perjalanan kita menuju “keserupaan ilahi”, maka dalam Kristus yang bangkit itu, jalan menuju pengilahian melalui rahmat sekali lagi dibuka bagi “yang dikasihi Allah.” “Keajaiban besar” ditampilkan, yang mana menyembuhkan “luka besar” umat manusia. Dalam ikon lambang Kebangkitan di Biara Chora, kita melihat Tuhan kemuliaan, yang turun “ke kedalaman Hades” dan menaklukkan kekuatan maut, bangkit sebagai pemberi kehidupan dari kubur, membangkitkan dengan diriNya para leluhur umat manusia dan di dalamnya seluruh umat manusia dari awal sampai akhir, sebagai pembebas kita dari perbudakan musuh.

Melalui Kebangkitan hidup dalam Kristus, pelepasan dan pemerdekaan adalah dinyatakan. Karena “Kristus telah membebaskan kita … bagi kemerdekaan.” Isi, “etos” dari kebebasan semacam itu, yang harus dialami di sini dengan cara yang sesuai dengan Kristus, yang sebelum disempurnakan dalam kerajaan surgawi, adalah kasih, inti pengalaman dari “ciptaan baru”. “Karena engkau dipanggil bagi kebebasan, saudara-saudara; jangan hanya menggunakan kebebasanmu sebagai kesempatan untuk kedagingan, tetapi melalui kasih, jadilah hamba bagi satu dengan yang lain.” Kemerdekaan orang percaya, yang didasarkan pada Salib dan Kebangkitan sang Juruselamat, adalah sebuah perjalanan ke atas dan menuju sesama kita; itu adalah “iman yang bekerja melalui kasih.” Ini adalah eksodus dari “perbudakan Mesir” dan dari keterasingan yang beragam, transendensi yang diberikan Kristus dari keberadaan yang tertutup dan rumit, merupakan harapan keabadian yang memanusiakan kemanusiaan.

Saat kita merayakan Paskah, kita mengaku di Gereja bahwa Kerajaan Allah “telah dinyatakan, tetapi belum digenapi”. Dalam terang Kebangkitan, hal-hal duniawi mengasumsikan signifikansi baru, karena mereka sudah ditransformasikan dan ditransfigurasikan. Tidak ada yang hanya semata “diberikan”. Semuanya bergerak menuju kesempurnaan eskatologis. “Ketergesaan yang bebas” ini menuju Kerajaan, yang secara khusus dihayati dalam perjamuan ekaristi, melindungi umat Allah, di satu sisi dari ketidakpedulian terhadap sejarah dan kehadiran kejahatan di dalamnya, dan di sisi lain dari kelupaan penuh akan firman Allah, bahwa “kerajaanKu bukan dari dunia ini,” yang menandai perbedaan antara yang “sudah” dan “yang belum” dari kedatangan Kerajaan, seturut dengan ungkapan yang sangat teologis bahwa “Raja telah tiba, Tuhan Yesus, dan KerajaanNya akan datang.”

Karakteristik utama dari kebebasan yang diberikan Tuhan kepada orang percaya ini adalah denyut kebangkitan yang tak henti-hentinya, kewaspadaan dan dinamisme kebebasan ini. Karakternya sebagai karunia tidak hanya tidak membatasi, tetapi pada kenyataannya memanifestasikan persetujuan kita sendiri atas karunia ini, dan memperkuat perjalanan dan perilaku kita menuju kebebasan baru, yang juga berisi pemulihan hubungan kita yang terasing dengan ciptaan. Orang yang merdeka di dalam Kristus tidak terjebak dalam “kemutlakan duniawi” seperti “yang lain, yang tidak memiliki harapan.” Harapan kita adalah Kristus, keberadaan yang digenapi di dalam Kristus, kecemerlangan dan kemegahan kekekalan. Batasan biologis kehidupan tidak mendefinisikan kebenarannya. Kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita. “Janganlah ada yang takut mati, karena kematian Juruselamat telah membebaskan kita. Dia ditahan olehnya dan telah memusnahkannya. Dia yang turun ke neraka, Dia menjadikan neraka sebagai tawanan. ” Kebebasan di dalam Kristus adalah “ciptaan lain” akan manusia, cita-rasa awal dan model dari pemenuhan dan kepenuhan Ekonomi Ilahi pada “kini dan selamanya” di akhir zaman, ketika “yang diberkati Bapa” akan hidup pribadi ke pribadi bersama Kristus, “melihat Dia dan dilihat olehNya, sebagaimana mereka menikmati buah dari kesenangan tanpa akhir yang datang dariNya.”

Paskah Suci bukan hanya pesta keagamaan, meskipun adalah pesta terbesar bagi kita umat Orthodox. Setiap Liturgi Ilahi, setiap doa dan permohonan umat beriman, setiap pesta dan peringatan para Suci dan Martir, penghormatan akan ikon-ikon suci, “sukacita melimpah” umat Kristen (2 Kor. 8.2), setiap tindakan kasih akan pengorbanan dan persaudaraan, ketahanan akan rasa duka, harapan yang tidak pernah mengecewakan umat Allah, adalah pesta perayaan kebebasan. Semua ini memancarkan terang Paskah dan menitiskan keharuman Kebangkitan.

Dalam semangat ini, saat kita memuliakan sang Juruselamat dunia, yang menginjak-injak kematian dengan kematian, kami menyampaikan kepada engkau semua – Saudara kami yang paling terhormat di seluruh Kerajaan Tuhan dan anak-anak kami yang terkasih dari Bunda Gereja – suatu salam kemeriahan pesta, karena, dengan satu suara dan satu hati, kami dengan sukacita memberkatimu bersama Kristus hingga sepanjang segala abad.

Di Phanar, Paskah Suci 2021

✠ Bartholomew of Constantinople