CATECHETICAL HOMILY AT THE OPENING OF THE GREAT LENT (in English/ Bahasa 2021)

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on whatsapp

CATECHETICAL HOMILY

AT THE OPENING 

OF HOLY AND GREAT LENT

+ BARTHOLOMEW

BY GOD’S MERCY 

ARCHBISHOP OF CONSTANTINOPLE-NEW ROME

AND ECUMENICAL PATRIARCH

TO THE PLENITUDE OF THE CHURCH,

MAY THE GRACE AND PEACE 

OF OUR LORD AND SAVIOR JESUS CHRIST,

TOGETHER WITH OUR PRAYER, BLESSING AND FORGIVENESS

BE WITH YOU ALL

* * *

Most honorable brothers and blessed children in the Lord,

            With the good-will and grace of God, the giver of all good things, we are entering Holy and Great Lent, the arena of ascetic struggles. The Church knows the labyrinths of the human soul and the thread of Ariadne, the way out of all impasse – humility, repentance, the power of prayer and the sacred services of contrition, fasting that eliminates the passions, patience, obedience to the rule of piety. And so the Church invites us once again this year to a divinely inspired journey, whose measure is the Cross and whose horizon is the Resurrection of Christ.

            The veneration of the Cross in the middle of Holy and Great Lent reveals the meaning of this whole period. The word of our Lord echoes strikingly: “Whoever desires to follow me … let them lift their cross each day and follow me” (Lk 9.23). We are called to lift our own cross, following the Lord and beholding His life-giving Cross, with the awareness that the Lord is the one that saves and not the lifting of our cross. The Cross of the Lord is “the judgment of our criteria,” “the judgment of the world,” and at the same time the promise that evil in all its forms does not have the final word in history. In looking to Christ and under His protection, as the One who permits our struggle, while blessing and strengthening our effort, we fight the good fight, “afflicted in every way, but not crushed; perplexed, but not driven to despair; persecuted, but not forsaken; struck down, but not destroyed” (2 Cor 4.8–9). This is the experiential quintessence also during the present period of the Cross and the Resurrection. We are on a journey to the Resurrection through the Cross, through which “joy has come to the whole world.”

            Some of you may wonder why the Church, in the midst of the current pandemic, would add to the already existing health restrictions yet another “quarantine,” namely Great Lent. Indeed, Great Lent is also a “quarantine,” a period that lasts forty days. Nevertheless, the Church does not aim to weaken us further with additional obligations and prohibitions. On the contrary, it calls us to give meaning to the quarantine that we are living as a result of the coronavirus, through Great Lent, as liberation from enslavement to “the things of our world.”

            Today’s Gospel reading establishes the conditions of this liberation. The first condition is fasting, not in the sense of abstaining only from specific foods, but also from those habits that keep us attached to the world. Such abstinence does not comprise an expression of contempt of the world, but a necessary precondition for reorienting our relationship with the world and for experiencing the unique joy of discovering the world as the domain of Christian witness. This is why, even during this stage of fasting, the approach and experience of the life of the faithful have a paschal dimension, the taste of the Resurrection. The “Lenten atmosphere” is not depressing, but joyous. It is the “great joy” that was proclaimed as good news by the angel “to all people” at the birth of the Savior (Lk 2.10). This is the unwavering “fulness of joy” (1 Jn 1.4) of life in Christ. Christ is always present in our life – He is closer to us than we are to ourselves – all the days of our life, “unto the end of the ages” (Mt 28.20). The life of the Church is an unshakeable witness to the grace that has come and to the hope of the Kingdom, to the fullness of revelation of the mystery of the Divine Economy.

            Faith is the response to God’s loving condescension to us; it is the “Yes” of our whole existence to Him, who “bowed the heavens and descended” in order to redeem the human race “from the slavery of the enemy” and in order to open for us the way toward deification through grace. The sacrificial love for the neighbor and the “care” for the whole creation spring from and are nurtured by this gift of grace. If this charitable love for others and the god-pleasing concern for creation are absent, then my neighbor becomes “my hell” and creation is abandoned to irrational forces, which transform it into an object of exploitation and into a hostile environment for humankind.

            The second condition of the liberation promised by Great Lent is forgiveness. Oblivion of divine mercy and God’s ineffable beneficence, breach of the Lord’s commandment that we should become “the salt of the earth” and “the light of the world” (Mt 5.13-14), and a false transformation of the Christian way of life: to all of these attitudes leads a “closed spirituality” that thrives on the denial and rejection of the “other” and of the world, wipes out love, forgiveness and the acceptance of the different. Yet, this barren and arrogant attitude of life is denounced emphatically by the word of the Gospel on the first three Sundays of the Triodion.

            It is known that such extremes are especially prevalent during periods when the Church invites its faithful to spiritual discipline and vigilance. However, the authentic spiritual life is a way of internal renewal, an exodus from our selves, a loving movement toward our neighbor. It is not based on syndromes of purity and exclusion, but on forgiveness and discernment, doxology and thanksgiving, according to the experiential wisdom of the ascetic tradition: “It is not food, but gluttony that is evil … not speaking, but idle speech … not the world, but the passions.”

            With this attitude and these sentiments, we join our prayers with all of you, beloved brothers and children, that we may definitively overcome the lethal pandemic and swiftly respond to its social and economic consequences. And we ask for your beseeching supplications, too, for the reopening of the Sacred Theological School of Halki, after a long period of fifty years that has passed since its silence was imposed externally and fully unjustly, as we welcome Holy and Great Lent in the Church, singing and chanting together “God is with us,” to Whom belongs the glory and might to the endless ages. Amen!

Holy and Great Lent 2021

 BARTHOLOMEW of Constantinople

Fervent supplicant for all before God

In Bahasa, Indonesia

HOMILI KATEKETIK BAGI PUASA SUCI DAN AGUNG 2021

Protokol No. 200

✠ B A R T H O L O M E U S OLEH BELAS KASIH ALLAH USKUP AGUNG KONSTANTINOPEL-ROMA BARU DAN PATRIARK EKUMENIKALKEPADA PEMILIK GEREJAKIRANYA RAHMAT, PENGASIHAN DAN DAMAI DARI YESUS KRISTUS TUHAN DAN JURUSELAMAT KITA BERSAMA DENGAN DOA-DOA KAMI, BERKAT DAN PENGAMPUNAN BESERTAMU SEMU

ASaudara-saudara yang termulia dalam Kristus dan anak-anak yang terkasih,Dengan kehendak baik dan rahmat dari Allah, sang pemberi segala hal yang baik, kita memasuki Puasa Suci dan Agung, arena perjuangan asketis. Gereja mengenal labirin jiwa manusia dan untaian Ariadne, jalan keluar dari semua kebuntuan – kerendahan hati, pertobatan, kekuatan doa dan ibadat-ibadat suci akan penyesalan, puasa yang menghilangkan nafsu, kesabaran, ketaatan pada aturan kesalehan. Maka Gereja mengundang kita sekali lagi tahun ini ke perjalanan yang diilhami secara ilahi, yang ukurannya adalah Salib dan yang cakrawalanya adalah Kebangkitan Kristus.Penghormatan Salib di tengah Puasa Suci dan Agung mengungkapkan arti dari seluruh periode ini. Sabda Tuhan kita bergema lantang: “Barangsiapa ingin mengikut Aku… biarlah mereka memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9.23). Kita dipanggil untuk mengangkat salib kita sendiri, mengikuti Tuhan dan memandang SalibNya yang memberi kehidupan, dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan dan bukan pengangkatan salib kita. Salib Tuhan adalah “penghakiman atas kriteria kita,” “penghakiman dunia,” dan pada saat yang sama janji bahwa kejahatan dalam segala bentuknya tidak memiliki kata akhir dalam sejarah. Dalam memandang Kristus dan di bawah perlindungan-Nya, karena Dialah yang memperkenankan perjuangan kita, sambil memberkati dan memperkuat upaya yang kita lakukan, kita berjuang dalam pertarungan yang baik, “menderita dalam segala hal, tetapi tidak hancur; bingung, tetapi tidak putus asa; teraniaya, tapi tidak ditinggalkan; dipukul, tetapi tidak hancur” (2 Kor 4.8–9). Ini adalah inti pengalaman, dan juga selama periode Salib dan Kebangkitan saat ini. Kita sedang dalam perjalanan menuju Kebangkitan melalui Salib, yang melaluinya “sukacita telah datang ke seluruh dunia.”Beberapa darimu mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja, di tengah pandemi saat ini, menambahkan pada batasan kesehatan yang sudah ada yakni “karantina,” yang disebut Puasa Agung. Memang, Puasa Agung adalah juga merupakan “karantina”, periode yang berlangsung selama empat puluh hari. Meskipun demikian, Gereja tidak bermaksud untuk melemahkan kita lebih lagi dengan kewajiban dan larangan tambahan. Sebaliknya, itu memanggil kita untuk memberi makna pada karantina yang kita jalani sebagai akibat dari virus corona, melalui Puasa Agung, sebagai pembebasan dari perbudakan kepada “hal-hal dunia kita”.Bacaan Injil hari ini menetapkan syarat pembebasan tersebut. Syarat pertama adalah berpuasa, bukan dalam arti berpantang hanya dari makanan tertentu, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita tetap melekat pada dunia. Pantang seperti itu bukan merupakan ekspresi penghinaan terhadap dunia, tetapi prasyarat yang diperlukan untuk mengarahkan kembali hubungan kita dengan dunia dan untuk mengalami kegembiraan unik menemukan dunia sebagai wilayah kesaksian Kristen. Inilah mengapa, bahkan selama tahap puasa ini, pendekatan dan pengalaman hidup umat beriman memiliki dimensi paskah, rasa kebangkitan. “Suasana Prapaskah” tidak menyedihkan, tapi menyenangkan. Ini adalah “sukacita besar” yang diberitakan sebagai kabar baik oleh malaikat “kepada semua orang” pada saat kelahiran Juruselamat (Luk 2.10). Ini adalah “kegenapan sukacita” yang tak tergoyahkan (1 Yoh 1.4) hidup di dalam Kristus. Kristus selalu hadir dalam hidup kita – Dia lebih dekat dengan kita daripada kita dengan diri kita sendiri – sepanjang hidup kita, “sampai akhir zaman” (Mat 28.20). Kehidupan Gereja adalah suatu kesaksian tak tergoyahkan dari rahmat yang telah datang dan harapan Kerajaan, untuk kepenuhan penyataan misteri Ekonomi Ilahi.Iman adalah tanggapan atas kerendahan kasih Tuhan kepada kita; itu adalah “Ya” dari seluruh keberadaan kita kepada-Nya, yang “membungkuk ke langit dan turun” untuk menebus umat manusia “dari perbudakan musuh” dan untuk membukakan bagi kita jalan menuju pengilahian melalui kasih karunia. Kasih pengorbanan untuk sesama dan “kepedulian” untuk seluruh ciptaan muncul dari dan dipelihara oleh karunia rahmat ini. Jika cinta kasih untuk sesama dan kepedulian yang menyenangkan Allah untuk ciptaan tidak ada, maka sesamaku menjadi “neraka bagiku” dan ciptaan ditinggalkan untuk kekuatan irasional, yang mengubahnya menjadi objek eksploitasi dan menjadi lingkungan yang bermusuhan bagi umat manusia.Syarat kedua dari pembebasan yang dijanjikan oleh Puasa Agung adalah pengampunan. Melupakan belas kasihan ilahi dan kemurahan hati Allah yang tak terlukiskan, pelanggaran atas perintah Allah bahwa kita harus menjadi “garam dunia” dan “terang dunia” (Mat 5.13-14), dan transformasi palsu dari cara hidup Kristiani: untuk semua sikap ini mengarah pada “spiritualitas tertutup” yang tumbuh subur di atas penyangkalan dan penolakan dari “yang lain” dan dari dunia, menghapus cinta, pengampunan dan penerimaan yang berbeda. Tetapi, sikap hidup yang mandul dan arogan ini secara tegas dikecam oleh firman Injil pada tiga Minggu Triodion diawal.Dipahami bahwa kecenderungan tajam seperti itu terutama lazim selama periode ketika Gereja mengundang umatnya untuk disiplin dan kewaspadaan spiritual. Namun, kehidupan rohani yang otentik ini adalah merupakan suatu jalan pembaharuan terdalam, suatu eksodus dari diri kita sendiri, suatu gerakan kasih terhadap sesama kita. Ini tidak didasarkan pada sindrom kemurnian dan pengucilan, tetapi pada pengampunan dan kearifan, pujian agung dan ucapan syukur, seturut pada pengalaman kebijaksanaan dari tradisi asketis: “Bukan makanan, tetapi kerakusan yang jahat… bukan berbicara, tetapi ucapan-ucapan tanpa faedah… bukan dunia, tapi hawa nafsu.”Dengan sikap dan perasaan-perasaan ini, kami meminta doa-doa permohonanmu juga, untuk pembukaan kembali Sekolah Teologi Suci Halki, setelah jangka waktu lama lima puluh tahun yang telah berlalu sejak keheningannya yang dipaksakan secara eksternal dan sepenuhnya tidak adil, karenanya bersama kami sambutlah Puasa Suci dan Agung di Gereja, sembari bernyanyi dan mengidung bersama “Allah beserta kita,” kepadaNya Yang Empunya kemuliaan dan kekuatan hingga sepanjang segala abad. Amin!Puasa Suci dan Agung 2021

✠ Bartholomew of Constantinople

Pemohon doamu yang setia dihadapan Allah